Your Cart 3

  • Marketing Course
    Brief description
    $120
  • Strategy Course
    Brief description
    $80
  • Digital Course
    Brief description
    $50
  • Total (USD) $250

Search

ISMI Gelar Dialog Kebangsaan IV

Ditulis oleh melayu.us padaMelayu.us, Jumat 10 Juli 2026 | 04:53

MEDAN, 9 Juli 2026 – Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) sukses menyelenggarakan Dialog Kebangsaan Edisi ke-IV yang bertajuk "Menjemput Tuah, Meninggi Marwah: Mengukuhkan Tanjak dan Tengkuluk Sumatera Utara dalam Peta Budaya Nasional". Kegiatan yang berlangsung di Ruang Al Huda, Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB), Medan ini menjadi momentum krusial bagi upaya perlindungan identitas budaya Melayu melalui mekanisme legalitas formal. Diawali dengan rangkaian seremonial yang khidmat, termasuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne Tanah Melayu, acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan ISMI, perwakilan Kesultanan Serdang, serta sivitas akademika UNPAB.

Ketua Harian Pengurus Besar ISMI, Prof. Dr. Ir. Ilmi, M.Sc. (Datuk Daksa Bhakti Negara), dalam sambutannya menegaskan bahwa Dialog Kebangsaan IV merupakan forum strategis untuk melakukan rekonstruksi filosofis terhadap atribut hiasan di kepala dalam budaya Melayu. Bagi masyarakat Melayu, tanjak dan tengkuluk bukanlah sekadar pelengkap busana, melainkan mahkota yang menyimpan pesan filosofis, sejarah panjang, serta jati diri yang harus dijaga eksistensinya. Prof. Ilmi menambahkan bahwa inisiatif ini merupakan manifestasi kontribusi intelektual cendekiawan Melayu dalam merespons dinamika perubahan sosial serta wujud nyata dari upaya merawat ingatan dan menjaga marwah identitas bangsa.

(Prof. Dr. Ir. Ilmi, M.Sc.-Foto.Doc,)

Sultan Serdang ke-IX, DYMM Tuanku Achmad Thala’a Syariful Alamsyah, dalam arahannya menyoroti pentingnya langkah konkret dalam pendokumentasian aset budaya. Meskipun Kesultanan Serdang telah melakukan upaya pewarisan budaya secara mandiri, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi kendala yang menuntut sinergi strategis antara lembaga adat, pemerintah, dan akademisi untuk memastikan ketahanan kebudayaan nasional. Dukungan senada disampaikan oleh perwakilan Rektor UNPAB, Dr. H. M. Isa Indrawan, S.E., M.M. (Datuk Teruna Wangga), yang menyatakan bahwa UNPAB berkomitmen penuh untuk mendukung langkah nyata dalam pelestarian dan pendokumentasian khazanah budaya Melayu.

Tengku Rizqan, B.Mus.Ed., M.Sn., selaku Sekretaris Bidang Seni Budaya PB ISMI sekaligus Ketua Panitia dan moderator acara, menekankan pentingnya keberlanjutan forum ini sebagai instrumen intelektual. \"Ikatan Sarjana Melayu Indonesia berkomitmen untuk menyediakan ruang dialektika bagi pemikiran-pemikiran konstruktif. Melalui wadah dialog yang berkelanjutan, forum ini diharapkan mampu menjadi katalisator dalam merumuskan solusi strategis atas isu-isu krusial yang dihadapi masyarakat Melayu di Indonesia,\" tegasnya.

Sesi pemaparan materi menghadirkan Kepala Balai Seni Tanjak Tengkuluk Kesultanan Serdang, Abu Abdillah Fahmi, S.T  yang menguraikan rekam jejak, tipologi, serta analisis mendalam mengenai konstruksi teknis tanjak dan tengkuluk. Sementara itu, Hj. Dr. Tengku Mira Sinar, M.A. ahli cagar budaya dan warisan budaya takbenda (WBTB) Provinsi Sumatera Utara, memaparkan urgensi integrasi khazanah budaya ke dalam big data nasional. Menurut beliau, proses pencatatan formal bukan sekadar langkah administratif, melainkan strategi agar kekayaan intelektual leluhur terdokumentasi dengan baik, terverifikasi, dan dapat diakses untuk kepentingan riset kebudayaan di masa depan.

Dalam sesi diskusi yang melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk perwakilan dari Kabupaten Batu Bara, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Langkat serta akademisi dari beberapa universitas negeri maupun swasta, disepakati beberapa poin penting. ISMI akan segera memformulasikan rekomendasi resmi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Sumatera untuk mempercepat penetapan tanjak dan tengkuluk sebagai WBTB. Selain itu, forum menekankan perlunya peningkatan kualitas basis data, publikasi artikel ilmiah di jurnal bereputasi, serta penguatan edukasi etika penggunaan atribut budaya bagi generasi muda. Dengan dihadiri sekitar 70 peserta dari berbagai lapisan masyarakat, dialog ini ditutup dengan semangat kolaborasi untuk mentransformasi nilai tradisional menjadi modal sosial yang diakui dalam peta budaya nasional.(Sekretariat Bidang Seni Budaya PB ISMI Medan, Sumatera Utara)