Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) inisiasi International Conference on the Strait of Malacca(ICSM) 2026
MEDAN, 24 JUNI 2026 – Di tengah gemuruh arus niaga dunia yang melintasi Selat Malaka, sebuah gagasan besar lahir dari rahim intelektual Melayu. Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PB ISMI) dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab moral, secara resmi menginisiasi The 1st International Conference on the Strait of Malacca (ICSM 2026). Forum akademik bergengsi ini dijadwalkan tentative berlangsung di Batam, Kepulauan Riau, pada 21–23 September 2026, bertepatan dengan momentum refleksi Hari Maritim Nasional.

Lahirnya
ICSM 2026 bukanlah sekadar agenda administratif. Inisiatif ini merupakan
manifestasi dari rasa empati yang mendalam serta tanggung jawab kolektif para
cendekia Melayu. Sebagai kaum intelektual yang peduli pada kemaslahatan negeri,
PB ISMI merasa terpanggil untuk menyuarakan nasib masyarakat di pesisir timur
Sumatra.
Selama
ini, Selat Malaka, jalur maritim tersibuk dan chokepoint paling
strategis di dunia, kerap hanya dipandang melalui kacamata mekanistis dingin
sebagai komoditas lalu lintas kapal semata. Melalui ICSM 2026, PB ISMI
berkomitmen meluruskan kembali narasi tersebut demi mengembalikan kithah
Selat Malaka sebagai ruang hidup dan ekologi sosial yang dinamis, sekaligus
memulihkan posisinya sebagai jantung kebudayaan masyarakat Melayu yang telah
berabad-abad menghormati Selat ini.
Tema konferensi, "Assessing
the Future of the Strait of Malacca: IMO Global Regulations, Blue Economy, and
the Existence of Marine and Coastal Indigenous Peoples," mengajak kita
untuk merenungkan cara menyelaraskan berbagai kebutuhan masa depan yang
berharga. Di satu sisi, kita memiliki komitmen bersama dalam tata kelola selat
melalui panduan internasional seperti protokol MARPOL dan SOLAS dari
International Maritime Organization (IMO) serta pengembangan paradigma Blue
Economy. Di saat yang sama, ini adalah kesempatan mulia bagi kita untuk
merangkul dimensi kemanusiaan yang sering kali terabaikan di balik megahnya
arus perdagangan global, guna memastikan bahwa setiap langkah kemajuan kita
turut menjaga martabat masyarakat pesisir dan laut.
\"Konferensi ini hadir untuk menjembatani kesenjangan dialektika antara kebijakan tingkat tinggi dengan realitas akar rumput. Kita ingin mengingatkan bahwa masyarakat adat laut dan komunitas bahari tradisional sebagai the oldest guardians atau penjaga tertua kawasan ini tidak tersisih oleh derap pembangunan,\" ujar Sekretaris Jenderal PB ISMI, Assoc. Prof. Yanhar Jamaluddin, MAP.
ICSM 2026 menjadi panggung bagi
empat provinsi pilar Indonesia: Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau.
Chairman ICSM 2026, Tengku Rizqan, B.Mus.Ed., M.Sn., menegaskan
bahwa keempat wilayah ini memiliki peran krusial.
"Keempat provinsi ini bukan sekadar garis pembatas geografis. Mereka memikul tanggung jawab besar atas keamanan, diplomasi perbatasan, serta menjadi benteng pertahanan bagi kelestarian tamaddun Melayu Indonesia," ungkap Tengku Rizqan.
Langkah ini
sekaligus membangkitkan kembali amanat historis Presiden Soekarno pada 1963: "Kita
harus kembali menjadi bangsa pelaut, bangsa samudra yang berjiwa bahari."
Forum internasional ini akan
menjadi wadah pertukaran gagasan melalui call for papers, konferensi
ilmiah, serta penerbitan prosiding bereputasi (ISBN/ISSN/DOI). PB ISMI
menargetkan luaran berupa policy brief yang konkret sebagai masukan bagi
para pemangku kebijakan.
Saat konferensi pers, Yanhar
Jamaluddin yang didampingi Ketua Harian PB ISMI, Prof. Dr. Ir. Ilmi, M.Sc.,
menyatakan tekad kuat organisasi untuk menghasilkan langkah nyata yang harmonis
antara kepentingan ekonomi, regulasi internasional, dan keadilan bagi komunitas
adat pesisir. Prof. Ilmi turut memberikan penekanan penting, \"Ini adalah
ajakan bagi kalangan akademisi, peneliti, serta pegiat kebudayaan untuk
menyatukan langkah demi masa depan Selat Malaka yang lebih baik dan
berkelanjutan. (TR/ISMI).
Lihat juga