Your Cart 3

  • Marketing Course
    Brief description
    $120
  • Strategy Course
    Brief description
    $80
  • Digital Course
    Brief description
    $50
  • Total (USD) $250

Search

Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) inisiasi International Conference on the Strait of Malacca(ICSM) 2026

Ditulis oleh melayu.us padaMelayu.us, Kamis 25 Juni 2026 | 14:57

MEDAN, 24 JUNI 2026 – Di tengah gemuruh arus niaga dunia yang melintasi Selat Malaka, sebuah gagasan besar lahir dari rahim intelektual Melayu. Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PB ISMI) dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab moral, secara resmi menginisiasi The 1st International Conference on the Strait of Malacca (ICSM 2026). Forum akademik bergengsi ini dijadwalkan tentative berlangsung di Batam, Kepulauan Riau, pada 21–23 September 2026, bertepatan dengan momentum refleksi Hari Maritim Nasional.


Lahirnya ICSM 2026 bukanlah sekadar agenda administratif. Inisiatif ini merupakan manifestasi dari rasa empati yang mendalam serta tanggung jawab kolektif para cendekia Melayu. Sebagai kaum intelektual yang peduli pada kemaslahatan negeri, PB ISMI merasa terpanggil untuk menyuarakan nasib masyarakat di pesisir timur Sumatra.

Selama ini, Selat Malaka, jalur maritim tersibuk dan chokepoint paling strategis di dunia, kerap hanya dipandang melalui kacamata mekanistis dingin sebagai komoditas lalu lintas kapal semata. Melalui ICSM 2026, PB ISMI berkomitmen meluruskan kembali narasi tersebut demi mengembalikan kithah Selat Malaka sebagai ruang hidup dan ekologi sosial yang dinamis, sekaligus memulihkan posisinya sebagai jantung kebudayaan masyarakat Melayu yang telah berabad-abad menghormati Selat ini.

Tema konferensi, "Assessing the Future of the Strait of Malacca: IMO Global Regulations, Blue Economy, and the Existence of Marine and Coastal Indigenous Peoples," mengajak kita untuk merenungkan cara menyelaraskan berbagai kebutuhan masa depan yang berharga. Di satu sisi, kita memiliki komitmen bersama dalam tata kelola selat melalui panduan internasional seperti protokol MARPOL dan SOLAS dari International Maritime Organization (IMO) serta pengembangan paradigma Blue Economy. Di saat yang sama, ini adalah kesempatan mulia bagi kita untuk merangkul dimensi kemanusiaan yang sering kali terabaikan di balik megahnya arus perdagangan global, guna memastikan bahwa setiap langkah kemajuan kita turut menjaga martabat masyarakat pesisir dan laut.

\"Konferensi ini hadir untuk menjembatani kesenjangan dialektika antara kebijakan tingkat tinggi dengan realitas akar rumput. Kita ingin mengingatkan bahwa masyarakat adat laut dan komunitas bahari tradisional sebagai the oldest guardians atau penjaga tertua kawasan ini tidak tersisih oleh derap pembangunan,\" ujar Sekretaris Jenderal PB ISMI, Assoc. Prof. Yanhar Jamaluddin, MAP.

ICSM 2026 menjadi panggung bagi empat provinsi pilar Indonesia: Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau. Chairman ICSM 2026, Tengku Rizqan, B.Mus.Ed., M.Sn., menegaskan bahwa keempat wilayah ini memiliki peran krusial.

"Keempat provinsi ini bukan sekadar garis pembatas geografis. Mereka memikul tanggung jawab besar atas keamanan, diplomasi perbatasan, serta menjadi benteng pertahanan bagi kelestarian tamaddun Melayu Indonesia," ungkap Tengku Rizqan.

Langkah ini sekaligus membangkitkan kembali amanat historis Presiden Soekarno pada 1963: "Kita harus kembali menjadi bangsa pelaut, bangsa samudra yang berjiwa bahari."

Forum internasional ini akan menjadi wadah pertukaran gagasan melalui call for papers, konferensi ilmiah, serta penerbitan prosiding bereputasi (ISBN/ISSN/DOI). PB ISMI menargetkan luaran berupa policy brief yang konkret sebagai masukan bagi para pemangku kebijakan.

Saat konferensi pers, Yanhar Jamaluddin yang didampingi Ketua Harian PB ISMI, Prof. Dr. Ir. Ilmi, M.Sc., menyatakan tekad kuat organisasi untuk menghasilkan langkah nyata yang harmonis antara kepentingan ekonomi, regulasi internasional, dan keadilan bagi komunitas adat pesisir. Prof. Ilmi turut memberikan penekanan penting, \"Ini adalah ajakan bagi kalangan akademisi, peneliti, serta pegiat kebudayaan untuk menyatukan langkah demi masa depan Selat Malaka yang lebih baik dan berkelanjutan. (TR/ISMI).