Your Cart 3

  • Marketing Course
    Brief description
    $120
  • Strategy Course
    Brief description
    $80
  • Digital Course
    Brief description
    $50
  • Total (USD) $250

Search

Abu Abdillah Fahmi dan Seni Destar

Ditulis oleh melayu.us padaMelayu.us, Jumat 10 Juli 2026 | 08:14

Di tengah pesatnya modernisasi, pelestarian warisan budaya lokal menjadi sangat krusial. Sebagai wujud nyata kepedulian tersebut, Abu Abdillah Fahmi, tokoh asal Negeri Serdang yang berdomisili di Tanjung Balai Karimun, memimpin gerakan pelestarian seni destar, tanjak, dan tengkolok. Sejak tahun 2025, ia dipercaya memimpin Balai Seni Tanjak Tengkuluk Kesultanan Negeri Serdang, yang kini menjadi garda terdepan dalam menjaga simbol identitas serta jati diri masyarakat Melayu. Sebagai pemimpin di Balai Seni yang akrab dipanggil Cik Gu Fahmi memayungi berbagai inisiatif pelestarian, termasuk perannya dalam Pertubuhan Ahli Seni Tradisional Alam Melayu (PERKASA ALAM) dan sebagai salah satu penggagas berdirinya Ahlul Tanjak Nusantara (ATN). Kombinasi latar belakang beliau sebagai arsitek lulusan Universitas Medan Area memberikan perspektif unik, di mana seni tradisional dipandang tidak sekadar sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai objek riset dan pelestarian yang sistematis.

Bagi Cik Gu Fahmi, tanjak atau tengkuluk bukan sekadar aksesori kepala biasa, namun memuat nilai-nilai filosofis dan sejarah yang mendalam, yang dalam tradisinya diteruskan melalui silsilah atau \"titisan terimba\". Cik Gu Fahmi  menekankan pentingnya transmisi ilmu yang bersifat sanad atau berguru secara langsung. Menurutnya, mempelajari seni ini secara mandiri tanpa bimbingan guru yang tepat berisiko mendistorsi keaslian makna, pola lipatan, serta tata letak yang sebenarnya merepresentasikan status atau kedudukan sosial pemakainya. Salah satu tantangan besar yang disoroti oleh Cik Gu Fahmi adalah fenomena komodifikasi warisan budaya. Ia mengkritisi munculnya pihak-pihak yang memproduksi rekaan baru di luar pakem adat, namun melabelinya sebagai \"warisan\" demi kepentingan bisnis semata.

Menurutnya, fenomena ini berpotensi mengaburkan pemahaman generasi muda mengenai hakikat budaya Melayu yang sebenarnya. Sebagai respons, melalui Balai Seni Tanjak Tengkuluk Kesultanan Negeri Serdang dan organisasi terkait lainnya, beliau aktif mengedukasi masyarakat mengenai perbedaan mendasar antara destar, tanjak, tengkolok, getam, dan semutar.

Melalui langkah edukatif ini, Abu Abdillah berharap masyarakat dapat lebih kritis dan menghargai keaslian karya seni sebagai bagian dari menjaga marwah budaya bangsa yang berlandaskan pada adat, bahasa, dan nilai-nilai luhur Melayu. (TR/Lebai Hitam)